Imaginary Me ; Child Zone

Seorang pria muda bernama Lee Cho-won. Pria muda berwajah manis dengan matanya yang kecil dan rambut jeraminya. Bukan! Itu bukan rambut gaya jerami, melainkan rambutnya memang sedang dalam kondisi berantakan karena dia terus saja mengusal rambutnya hingga seperti itu.

Tapi dia terlihat menawan sebagai anak sekolahan. Dengan tas punggung hitam dan pakaiannya yang sedikit berantakan itu, dia justru terlihat semakin menarik pesona wanita yang melintas di dekatnya. Sepertinya dia baru pulang sekolah?

Cho-won masih berjalan sendirian dengan wajah berlipat. Kenapa dia bisa seperti itu?

Dia baru akan menaiki bis saat seorang pria dewasa langsung menyerobot jalan masuknya hingga membuatnya hampir terjatuh dan terpaksa turun. Seorang pria asing dengan seragam SMA nya yang sudah berantakan.

“Ya!” rutuk Cho-won mengumpat. Akibat ulah pria asing itu, dia jadi harus menunggu kedatangan bis berikutnya.

Sepertinya Cho-won benar-benar terlihat kurang baik hari ini. dia hanya duduk dengan penuh dendam di halte sambil menunggu kedatangan bis berikutnya.

Dari arah lain datang sepasang anak SMA. Keduanya terlihat sedikit bertengkar dan itu benar-benar membuat Cho-won terganggu.

Hingga kedua murid SMA itu sama-sama duduk di kursi halte...

“Hey Tuan! Nona! Suami istri kalau ingin bertengkar jangan di tempat umum seperti ini!” omel Cho-won dengan berani.

Kedua murid SMA itu menatapnya aneh. Apa yang  sedang dilakukan seorang anak SMP?

“Apa katamu? Kau baru saja memberikan kami peringatan?! Memangnya kau siapa? Anak SMP! Tahu apa kau masalah orang dewasa?” kata pria itu lebih galak.

Keadaan berbalik, kini Cho-won yang menatap mereka dengan tatapan anehnya. Apa yang sedang dibicarakan pria ini?

“Anak SMP katamu?” Cho-won berdecis memalingkan wajahnya sekali.

“Hey! Anak SMA! Memangnya kau siapa? Kau berani berbicara seperti itu padaku?” balas Cho-won lebih galak. Apakah Cho-won seberani itu?

Pria itu balik berdecis.

“Anak SMP! Kau sudah berani rupanya ya?!” pria itu mulai berdiri dan bermaksud akan memberikan Cho-won sedikit pelajaran.

“Apa? Kau ingin marah? Kau berani padaku?” Cho-won semakin berani saja.

“Ya! Memangnya berapa umurmu? Kenapa kau berani sekali berurusan dengan orang dewasa?” pria itu semakin panas saja.

Cho-won tertawa mengejeknya dengan puas. Pria itu semakin geram dibuatnya.

“Mari kita lihat siapa yang lebih dewasa disini!” Cho-won segera mengeluarkan Kartu Tanda Pengenal miliknya dan menunjukkan kartu itu tepat di depan wajah pria itu.

“Namaku Lee Cho-won, lahir di Incheon tahun 1995! Umurku saat ini 21 tahun. Aku lebih tua 3 tahun darimu, apa kau masih menganggap dirimu sebagai orang dewasa? Heoh?!” semburnya dengan sangat puas lalu kembali menyimpan kartu pengenal itu.

Pria itu langsung tercekat. Dia tidak percaya bahwa Cho-won jauh di atasnya. Wajah anak SMP itu ternyata seorang mahasiswa.

“Itu pasti tanda pengenal palsu” kilahnya tak mau kalah.

“Kau masih tidak percaya?!” Cho-won kembali merogoh dompetnya untuk mengambil Kartu Identitas Mahasiswa miliknya.

“Kau lihat foto dengan nama ini? setelah melihat semua ini, apa kau masih tidak percaya? Heoh?!” sembur Cho-won lagi dengan beringas.

“Anak SMA?!” pungkasnya ketus lalu pergi dari halte itu saat bis datang.

Kejadian itu membuat Cho-won malas untuk naik bis. Dia memutuskan untuk berjalan kaki sampai ke rumah, tapi di pertengahan jalan salah seorang temannya bernama Kil-su datang menghampirinya.

“Kau dari mana? Berantakan sekali?!” kata Kil-su yang berjalan di samping Cho-won.

“Kenapa semua orang masih saja menganggapku seperti anak SMP?! Apa aku sebodoh itu?” gerutu Cho-won kesal. Dia menendang batu kecil di ujung kakinya.

Kil-su tersenyum berdecis.

“Minta ibumu membiayaimu untuk operasi! Atur ulang wajahmu itu!” ucap Kil-su asal.

“Kau ini! sudah bagus terlahir dengan wajah seperti anak kecil. Semua orang mengharapkan itu, tapi kau malah tidak menerimanya” sambungnya tanpa melihat Cho-won.

“Itu karena mereka tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Kau bisa kehilangan semua kepercayaan orang lain hanya karena wajahmu” gerutu Cho-won lagi. Dia kembali menendang kaleng bekas minuman di jalanan itu.

“Ya!!!” tanpa sengaja kaleng bekas itu malah mendarat di kepala seseorang.

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau fikir kepalaku ini tempat sampah?!” omel pria paruh baya itu.

“Maafkan aku Paman! Aku benar-benar tidak sengaja” Cho-won buru-buru menundukkan kepalanya tanda rasa menyesal.

“Apa kau tidak belajar sopan santun?” pria itu mengomel lagi seraya mengelus kepalanya yang sakit.

“Joseonghabnida ajeossi, jeongmal ...”

“...Ya! katakan pada adikmu untuk berfikir sebelum melakukan sesuatu! Dia hampir menyeretku ke dalam ICU” kata orang itu pada Kil-su, merebut kesempatan Cho-won untuk meminta maaf.

Kil-su tercekat dengan mulut sedikit ternganga. Sementara Cho-won menatapnya datar.

“Adikku?!” Kil-su menatap Cho-won dengan perasaan tidak percaya.

“Kau bahkan lebih tua satu tahun dariku dan dia bilang ‘Kau adikku’?!” Kil-su mendengus dan segera pergi meninggalkan Cho-won sendirian di sana. Dia kehabisan kata-kata.

“Kil-su!!... Ya! Choi Kil-su!!!” panggil Cho-won ingin memperjelas keadaan.

“Aish!” untuk ke sekian kalinya Cho-won mengusal rambutnya lagi dan dia semakin terlihat berantakan saja.

Apakah separah itu memiliki wajah seperti anak kecil?!

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer